Sekjen GRIB Jatim Kecam Rencana Presiden Jokowi Minta Maaf Kepada Keluarga Korban G 30 S/PKI

Sekjen GRIB Jatim Kecam Rencana Presiden Jokowi Minta Maaf Kepada Keluarga Korban G 30 S/PKI

Surabaya, Fakta Metropolis. Menanggapi rencana Presiden Joko Widodo untuk meminta maaf kepada keluarga korban Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau yang biasa disebut dengan G 30 S/PKI melalui pidato Kepresidenan pada 15 Agustus 2015 nanti, Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) melalui Sekjen GRIB Jatim Irwanto mengecam keras rencana Presiden Indonesia yang ke-7 tersebut.

 

Irwanto mengatakan bahwa apapun alasannya negara tidak boleh kalah atau mengalah pada PKI. Menurutnya, bisa jadi ini skenario besar PKI yang ingin balas dendam pada tokoh ulama dan seluruh rakyat serta TNI yg disinyalir pernah membunuh keluarga mereka. “Kami siap melawan siapapun yang hendak melegalkan kembali PKI dinegeri ini,” ujar Irwanto, Selasa (07/07/15).

 

Pria berkulit sawo matang itu berpendapat bahwa ini adalah soal harga diri bangsa, sehingga mana mungkin sebuah bangsa harus menyembah dan minta maaf serta membayar kompensasi pada gerombolan terlarang, oleh karenanya, tidak selayaknya seorang Presiden yang kental dengan adat Jawanya meminta maaf atas kesalahan PKI.

 

“Ini aneh bin nyeleneh namanya, tapi bisa saja pada pidato presiden tgl 15 Agustus 2015 nanti, negara menyatakan bersalah dan meminta maaf atas pelanggaran HAM yg pernah terjadi seperti di Wasior, Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2, Petrus dan PKI. Jika ini benar berarti negara salah dan PKI benar,” terang Irwanto kepada Fakta metropolis.


Sebagai bentuk keprihatannya terhadap rencana Presiden Jokowi, anak emas Presiden GRIB Hercules itu berpesan agar Presiden Jokowi lebih mengutamakan soal ekonomi Indonesia yang semakin tergoncang ketimbang membuka lama.

 

“Pesan saya pada yang terhormat paduka presiden Jokowi sebaiknya focus saja memperbaiki ekonomi Indonesia yang semakin terpuruk. Jangan tambah duka rakyat dengan membuka luka lama yang belum sembuh benar. Belajarlah memaafkan seperti Soekarno yang memaafkan personalnya tapi tak memaafkan organisasinya seperti PRRI, PERMESTA, dll,” pesan Irwanto.

 

Sekjen GRIB Jatim yang khas dengan meletakkan kacamata diatas topi yang dipakainya itu menambahkan bahwa focus memperbaiki ekonomi Indonesia itu lebih elok ketimbang minta maaf. “Karena kasus HAM yg sesungguhnya tidak ada, dan jika ingin menyelamatkan orang-orangnya sebaiknya pakai cara lain, bukan dengan negara meminta maaf,” pungkas Irwanto.(sayful)


Terkait