Bernada ancaman, pesan singkat ini bikin aktivis HMI Malang khawatir

Bernada ancaman, pesan singkat ini bikin aktivis HMI Malang khawatir

Fakta Metropolis, Malang. Isu tentang konflik di masa lalu tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) masih menghangat. Kali ini, seorang aktivis dari Himpunan Mahasiswa Islam Malang menerima sebuah pesan melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp yang di duga berisi ancaman, 20 Oktober sekitar pukul 01.14 WIB. Aktivis itu tidak lain adalah Haris Budi Kuncahyono.

Dugaan ancaman tersebut di terimanya dari seorang aktivis sebuah organisasi buruh di Malang, yakni Syafril alias Caping. Haris mengatakan, dirinya yang sebelumnya tak pernah merasa memiliki masalah dengan Caping, tiba-tiba mendapatkan terror melalui pesan Whatsapp dari nomor yang di duga milik Syafril, yang mengkaitkan dirinya dengan perbuatan pembantaian yang dituduhkan kepada ormas Islam di Indonesia.

Ormas Islam yang di maksud adalah, NU (Nahdlatul Ulama’), Muhammadiyah, dan Banser. Haris yang merasa tidak pernah ada konflik dengan Caping, mengungkapkan bahwa dia tidak pernah berdebat, hanya berkawan biasa. Haris hanya tahu bahwa Caping termasuk tokoh di kalangan aktivis, yakni penggerak buruh.

“Dia aktif di sebuah serikat buruh di Malang. Nah, jadi saya sama dia itu baik-baik saja, nggak ada masalah. Hutang uang juga nggak pernah, saya melakukan perbuatan yang merugikan dia juga nggak pernah, jadi ya komunikasi biasa-biasa aja. Cuman setahu saya si Caping atau Syafril ini orang yang sangat dekat dengan Bupati Malang, dan konon saya dengar, dia juga aktivis partai Nasdem kota Malang,” kata Haris, Minggu (29/10/2017).

Nah suatu ketika di pagi hari, yakni seusai solat Subuh, Haris membuka handphonenya. Dia terkejut dengan adanya sebuah pesan dari nomor handphone yang di duga milik Syafril alias Caping yang mengirimkan gambar tentang analisa konflik PKI, Amerika dan China dengan caption yang bertuliskan ‘NU, Muhammdiyah, Banser dan Bangsa ini harus meminta maaf atas keterlibatannya dalam pembantaian manusia !!’.

“Terus ada lagi ini daftar dosa besar. Nah, kemudian saya melihat itu, saya kaget, dan saya musyawarah dengan teman-teman. Teman-teman jaringan saya bilang, ini gak bisa didiamkan ini, harus di lawan. Tapi kita lawan secara hukum karena kita negara hukum. Terus pelakunya ini, pelaku intelektual, artinya mereka itu bukan orang awam, bukan orang biasa,” lanjut Haris mengungkapkan.

Atas pertimbangan itu, kemudian Haris memberikan hak kuasa kepada tim advokasi, Abdus Salam. Atas dasar inilah kemudian Abdus Salam melayangkan surat somasi kepada Syafril alias Caping. Sedangkan surat somasi itu sendiri berisi peringatan, yang menyatakan bahwa klien Abdus Salam sedang merasa terancam, dan khawatir apabila hendak bepergian.(*)


Terkait